Jumat, 18 November 2016

APAKAH WACANA INDONESIA EMAS 2045 AKAN TERWUJUD?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4BWmNa3EKbdt72nr-NpkVN5eTRBfa9lU9tsjJ-YYJWPJm_WtvI79CmsdQyNSComcnpmYPgF0wK14IrabuKx8ono-RLst2qoHdu9QrNc8feRX8JXAcJcoJgoIVk7PtBvH90qUDosKaUks/s1600/INDONESIAEMAS.png
A.    Apakah Generasi Emas Itu?
Berbicara mengenai generasi emas, Kemendikbud telah mengangkat tema “Bangkitnya Generasi Emas Indonesia” dalam rangka Hari Pendidikan Nasional tahun 2012 ini. Generasi emas sendiri merupakan generasi yang mampu bersaing secara global dengan bermodalkan kecerdasan yang komprehensif antara lain produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul. Hal ini merupakan harapan terbesar bangsa Indonesia di tahun 2045 nanti. Bukan tanpa perhitungan dalam merumuskan cita-cita ini, dalam upaya mewujudkan generasi emas ini Indonesia didukung dengan kondisi demografi dimana usia produktif paling tinggi di usia anak-anak dan orang tua.
Lalu siapakah yang termasuk dalam golongan generasi emas? Apakah mahasiswa termasuk di dalamnya? Jawabannya adalah iya, mahasiswa merupakan generasi emas bangsa yang seringkali digambarkan sebagai sosok unggul, pilihan, kreatif dan memilki integritas tinggi serta intelektual yang luar biasa. Mahasiswa. Awal pergerakan, pergerakan peradaban, pergerakan pemikiran, pergerakan idealisme. Mahasiswa bukan hanya sebagai penggerak terhebat tetapi juga kelompok intelektual yang memilki pemikiran yang layak diperhitungkan. Idealisme kuat, kritis, kreatif tetapi tidak anarkis menjadi kekuatan mahasiswa. Yah itulah mahasiswa sebagai Generasi Emas. Generasi perintis perubahan dalam rangka membentuk kehidupan dan peradaban bangsa yang dinamis ke arah yang lebih baik.

B.     Pendidikan Menuju Generasi Emas 2045

Pendidikan merupakan sebuah proses untuk membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, mampu berpikir secara saintifik dan filosofis tetapi mampu mengembangkan potensi spiritualnya. Pendidikan seharusnya bukan semata-mata mengajarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan namun juga mampu mengembangkan nilai-nilai religius pada peserta didik sehingga secara terus-menerus dapat melakukan pencerahan di dalam qalbunya.
Oleh karena itu, tujuan pendidikan adalah membentuk karakter manusia seutuhnya agar menjadi manusia yang bertaqwa, menjadi individu-individu yang muttaqin dalam rangka melaksanakan tugas dari Allah swt menjadi khalifah di muka bumi sehingga mampu mengemban amanah ibadah dan amanah risalah dengan sebaik-baiknya.
Tantangan pendidikan di era informasi saat ini, mengharuskan Guru untuk lebih kreatif, inovatif dan inspiratif dalam mendesain kegiatan pembelajaran yang bermutu untuk menyongsong generasi emas Indonesia Tahun 2045. Dengan jumlah penduduk lebih dari 240 juta jiwa, Guru menjadi kunci utama keberhasilan sumber daya manusia yang tidak hanya produktif tetapi juga unggul dan religius. Ini juga tidak terlepas dari upaya pemerintah untuk bersinergi mencerdaskan anak bangsa.
Peran Guru yang tidak hanya mengajar. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Sedangkan hakikat guru menurut Ki Hajar Dewantara adalah ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yakni di depan menjadi contoh jika di tengah membangkitkan hasrat belajar dan jika dibelakang memberikan dorongan.
Pendidikan memang bukanlah persoalan yang mudah, bila kita tanam sekarang ia dapat dirasakan hasilnya 19 tahun mendatang. Maka dari itu, kita harus bersinergi untuk mewujudkan generasi emas 2045 (100 tahun Indonesia Merdeka). Persoalan-persoalan itu dapat kita pecahkan bersama-sama dengan bergandengan tangan. Tidak ada lagi yang lalai dalam tugas mendidik, tidak saling adu jotos, merokok di sekolah, jujur dalam mengelola anggaran pendidikan, terlebih lagi guru mau menjadi pembelajar sejati dan terus berusaha untuk meningkatkan kapasitas dirinya sehingga dapat terwujud Guru teladan (good teachers). Pendidikan yang bermutu harus terus diupayakan oleh sang guru. Mereka adalah mutiaranya agent of change, pelaku perubahan agar menghasilkan manusia Indonesia yang religius, cerdas, produktif, andal dan komprehensif melalui layanan pembelajaran yang prima terhadap peserta didiknya, sehingga terwujud generasi emas tahun 2045.

C.    Optimisme Menuju Generasi Emas

Pemuda selalu diidentikan dengan perubahan. Betapa tidak, peran pemuda dalam membangun bangsa ini, peran pemuda dalam menegakkan keadilan, peran pemuda yang menolak kekuasaan otoriter atau sewenang-wenang. Di dalam masyarakat, pemuda merupakan satu identitas yang potensial sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan bangsanya.
Semua itu telah dicatat dalam sejarah kiprah pemuda-pemuda yang tak kenal waktu selalu berjuang dengan penuh semangat biarpun jiwa raga menjadi taruhannya. Indonesia merdeka berkat pemuda-pemuda Indonesia yang berjuang, seperti Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, Bung Tomo dan lain-lain dengan penuh mengorbankan dirinya untuk bangsa dan negara.
Generasi muda memiliki kecenderungan untuk bersikap antusias dalam menghadapi berbagai isu, baik yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan kehidupan mereka sehari-hari. Selain itu, idealisme yang terkandung dalam jiwa dan pikiran generasi muda memungkinkan generasi muda untuk memainkan peranan penting dalam kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Karena sifatnya ini, generasi muda menjadi kelompok yang potensial untuk mendukung pembangunan.
Dengan demikian, generasi muda perlu dilibatkan dalam setiap perencanaan pembangunan, sehingga pelayanan dapat lebih disesuaikan dengan sasaran yang ingin dicapai. Namun demikian, progresifitas generasi muda tidak hanya penting dalam kerangka pemberdayaan generasi muda, tapi juga memberikan kontribusi bagi penyiapan generasi selanjutnya, serta regenerasi kepemimpinan di masa mendatang.
Jika kita kembali menyimak gagasan Mendikbud, Muhammad Nuh, yang disampaikannya pada konferensi pers seputar rencana perayaan Hardiknas pada Mei 2012 lalu, yang menyatakan, sebagai tahun investasi untuk menanam ‘generasi emas’ Indonesia. Dengan kata lain, yang berarti pasti itulah kita sebagai bangsa Indonesia memiliki kapabilitas untuk merealisasikan generasi emas pada tahun 2045 nanti. Sungguh sebuah momen yang tepat serta perlu dibarengi dengan ketelatenan dan konsistensi dalam penggarapannya.
Optimisme Menuju Generasi Emas
Ada anggapan sistem pendidikan kita tidak berhasil membangun sikap positif anak terhadap lingkungan sekitar. Mereka yang berhasil lulus dari pendidikan tinggi lebih banyak yang cenderung melakukan aktualisasi untuk kepentingan pribadi, bukannya melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi kemaslahatan bangsa. Oleh karena itulah diperlukan reaktualisasi yang dapat menjadikan terangkatnya derajat bangsa.
Berdasarkan data dari Trends in International Math and Science Survey tahun 2007, disebutkan bahwa hanya 5% siswa Indonesia yang dapat mengerjakan soal berkategori advance yang memerlukan reasoning, kata Mendikbud. Dalam perspektif lain, 78% siswa Indonesia hanya dapat mengerjakan soal berkategori rendah yang semata hanya memerlukan knowing dan hafalan. Dari sinilah perlunya mengembangkan kurikulum yang menuntut penguasaan reasoning.
Untuk itu, tema pengembangan kurikulum 2013 adalah kurikulum yang dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan serta memiliki sikap, ketrampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Menyinggung elemen perubahan pada kurikulum 2013, Mohammad Nuh mencontohkan, untuk SD kompetensi dikembangkan melalui tematik integratif dalam semua mata pelajaran. Untuk SMP dikembangkan melalui mata pelajaran, untuk SMA melalui mata pelajaran wajib dan pilihan, dan untuk SMK melalui mata pelajaran wajib, pilihan, dan vokasi.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sangat optimis bahwa bangsa kita akan mempunyai generasi unggul atau generasi emas di usianya yang ke-100 tahun atau di tahun 2045. Sebab pemerintah mengklaim saat ini sudah menjalankan program pendidikan anak usia dini dengan “Melalui gerakan PAUDisasi, kita ingin menyongsong generasi emas di usia ke-100 tahun Indonesia merdeka di tahun 2045.
SBY mengkritik orangtua yang terlalu mengekang anaknya. SBY berpendapat banyak orangtua yang tidak mengerti bahasa dan pemikiran anak-anak zaman sekarang. Orang tua terlalu memaksakan kehendaknya dan membentuk karakter anak seperti apa yang ia inginkan. Itu tidak sepenuhnya benar, kritik SBY. Orangtua sering dihinggapi oleh yang disebut culture shock, atau kejutan budaya atau future shock atau lompatan masa depan. Banyak orangtua yang menanggap anak-anak yang mempunayi pemikiran, pergaulan, mind set, dan lainnya yang menyimpang. Maka itu untuk menciptakan generasi anak yang berkualitas di masa depan, harus dibutuhkan keinginan dari orangtua untuk tidak menelantarkan anaknya. Orangtua harus memberikan pendidikan yang cukup. Tentu, kata dia dibantu dengan program-program pemerintah.
Di tahun 2045, para pemimpin bangsa dan presiden Indonesia akan berasal dari kita yang sedang berstatus sebagai mahasiswa sekarang. Oleh karena itu persiapkanlah diri dan mental kita untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Dengan konsep inilah pemuda semestinya bergerak dan menyadari dirinya, lebih dari itu pemuda harus bergerak bersama rakyat dan pemerintah untuk membangun bangsa.
Oleh karena itu, senatiasa menginsyafi dan selalu berintrospeksi diri sebagai seorang mahasiswa, kita jadikan sebagai momentum untuk hijrah, yaitu hijrah dari kemalasan menuju kerja keras, hijrah dari sikap pesimis menuju sikap optimis, berani keluar dari kenyamanan untuk mendaki dan menempuh kesulitan, respect dan tanggap terhadap permasalahan bangsa dan negara, sehingga akhirnya kita layak dan pantas untuk disebut sebagai seorang pemuda.
Tantangan Generasi Emas di Tengah Problematika Pendidikan
Karakter atau watak bangsa Indonesia adalah suatu konstruksi budaya tentang sikap hidup, cara berpikir dan bertindak dari setiap individu bangsa Indonesia yang multikultural yang terpancar dari nilai-nilai budaya dan ideologi nasional Indonesia yaitu Pancasila (dalam menghadapi perubahan global).
Sesungguhnya pemuda memiliki kemampuan yang signifikan dalam memajukan negaranya. Pemuda juga menentukan arah tujuan dan masa depan bangsa. Selain itu pemuda juga menjadi pelaku aktif dalam proses pembangunan nasional serta berperan dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Pemuda kita ditantang untuk membawa iklim perubahan untuk bangsa dan negara yang lebih baik. Negara ini membutuhkan aksi kongkrit, bukan hanya gerakan parlemen di jalan atau pun di ruang rapat diskusi.

Comments system

Disqus Shortname